Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Pengalaman baru dalam dolanan blog hari ini adalah mengenai warning "Not Secure". Blog ini berubah menjadi "not Secure" sejak tadi malam. Saya bingung 😕. Mau benahin, tidak bisa. Mau ganti blog, tapi kok eman-eman dengan yang ini. 

"Biarkan aja. 'Kan tidak ada isi yang benar-benar privat sehingga aman jika diakses oleh publik. Kalau ada yang nge-hack, brarti blog kamu ada peminatnya," kata temanku.

Okelah kalo gitu. Saya lanjut aja blog ini. Toh isinya ya barang receh. Unfaedah semua. Penting tetap bisa upload tulisan. Lumayan, buat ngisi kegabutan ditengah wabah Covid-19 yang semakin menghawatirkan di Kota Malang ini.

Saat ini Kota Malang semakin menunjukkan kesepiannya. Kampus-kampus sepi. Sekolah pada libur. Warung kopi tutup semua, kecuali Tante. Ada beberapa warung kopi yang buka, tapi jam 8 malam udah tutup. WiFi kampus dimatikan. Listrik untuk cas laptop dipadamkan. Kampus lockdown.

Teman-temanku sudah seminggu yang lalu pada pulang kampung. Sekarang di C99 tinggal kami berdua: saya dan Imam. Anak-anak rayon pada pulkam. Rayon dan komisariat lockdown juga. 

Kerjaan gak ada. Skripsi masih nyendat. Gabut banget rasanya. Trus mau ngapain kalo ndak ngeblog? Sumpek, brow!


Sumber gambar: Twitter/yogantfirman
Kalau anak pemrograman harus menuliskan kalimat pertama dengan "Hello World!" dalam website mereka, namun saya langsung menulis kalimat yang tak jelas arah dan tujuannya.
Nge-blog sudah sejak dulu menjadi hobi saya. Entah pertama kali terinspirasi oleh siapa, saya sudah lupa. Mungkin semua ini berawal dari efek domino kebiasaan kakak pertama saya yang suka baca buku. Dia kuliah di UNESA, dan setiap pulang ke rumah membawa buku-buku untuk dituangkan ke otak adik-adiknya. Jenis bukunya sangat beragam. Mulai dari kumpulan puisi, kumpulan cerpen, kumpulan esai ringan, novel, hingga buku yang membahas masalah kaifiyah sholat dan amaliyah Nahdliyyin yang dimusyrik-musyrikkan. Buku-buku itu mulai saya telan sejak kelas 3 SMP, tahun 2011.

Nge-blog bisa membuat saya tenang. Sebab coretan-coretan dalam dekstop ini bisa merobohkan kepenatan pikiran yang menggumpal dalam otak saya. Di blog, saya bisa terjun bebas dengan membawa semua masalah itu. Tanpa harus ada sensor sana sini. Tentu dengan batasan gak nulis sak karepe udele dewe. Jangan sampai tulisan kita di blog ada yang merugikan pihak lain.

Oh, iya. Saya juga ingat, kakak saya mengenalkan salah satu platform blog milik kompas yang dapat dibuat oleh siapapun, yaitu kompasiana. Nah, disitulah saya mulai menulis blog. Ini tulisan pertama saya di kompasiana "Dua Rahasia Bangsa Yunani di Panggung Sejarah Peradaban Dunia". 

Terkait kata-kata motivasi untuk menulis sudah sangat banyak masuk ke otak saya. Jelas itu juga berpengaruh, namun ada satu hal lagi yang lebih berpengaruh, yakni adalah penulis-penulis yang aktif membuat konten di blog pribadinya maupun website manajemen. Misal, ada Mbah Nun di caknun.com, Gus Mus di gusmus.net, Gus Nadir di nadirhosen.net. Selain itu, ada pula Dee Lestari di deelestari.com, Agus Mulyadi di agusmulyadi.web.id, atau saudara kembar saya, Em Ruddy, di msyairuddin68.blogspot.com, dll.

Kalau anak pemrograman harus menuliskan kalimat pertama dengan "Hello World!" dalam website mereka, namun saya langsung menulis kalimat yang tak jelas arah dan tujuannya. Mungkin, ya, karena saya bukan anak pemrograman.

Blog ini akan kembali saya rawat. Semoga bisa konsisten membuat konten. Terserah tangan saya mau mengetik apa. Pokok saya tulis!

Malang, 25 Maret 2020 

_________________________
Sumber foto: www.febriyanlukito.com

"Mau dong credit blog bawaan template gratif diganti dengan nama kita."

Mengganti credit footer template gratisan memang hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. Sebab, itu bukan karya kita. Namun, sebagai pembelajaran agar kita bisa main-main dengan coding, bolehlah ini dilakukan. 

Tulisan ini saya tulis untuk mengingat ilmu satu ini. Sebab, jika tidak saya tulis, besar kemungkinan saya akan lupa.

Oke. Bagaimana cara mengganti credit footer agar tidak redirect?

Ini khusus untuk SoraTemplates, ya. Biasanya templates yang lain beda caranya. 

Pertama, kita download dulu file XML dari template blog. 

Kedua, kita buka aplikasi notepad++. Jika belum punya, silahkan download aplikasinya terlebih dahulu di SINI. Selain aplikasi notepad, kita juga butuh aplikasi Mazilla, jika belum punya silahkan download di SINI.

Selanjutnya, silahkan nonton tutorial di video berikut ini:


Selamat mencoba!

Tulisan ini Saya tulis di bulan Puasa 2019 dan telah terbit di Geotimes (8/5/2019) yang berjudul Puasa Tiba, Ulama dan Petinggi Negeri Harus Menyejukkan Suasana.
Bulan puasa sangat penting bagi seluruh umat muslim di manapun ia berada, tak terkecuali di negara kita, Indonesia. Bulan puasa adalah bulan yang penuh berkah, tak hanya bagi umat muslim saja, namun keberkahan bulan puasa juga dirasakan oleh non muslim.
Tahun ini, bulan puasa bertepatan dengan adanya pengumuman terkait hasil Pilpres 2019 di negara kita, lebih tepatnya tanggal 22 Mei 2019. Puasa yang seharusnya menjadi wadah untuk memperkaya ibadah, namun harus bersinggungan dengan atmosfir politik sedemikian tebalnya.
Menahan diri untuk tidak makan dan minum serta berhubungan suami isteri mulai terbitnya fajar shodiq (shubuh) hingga tenggelamnya matahari (maghrib), tidak cukup untuk menjadi rem dari cepatnya nafsu politik. Apa lagi ulama dari berbagai ormas Islam pun juga ikut andil secara langsung dalam percaturan politik kali ini.
Bulan puasa menuntut umat muslim untuk melawan dan menahan segala hawa nafsu dan berbuat dosa, misalnya: berbohong, memfitnah, menyebar kebencian, atau mengumpat kepada sesama manusia.
Jika hal ini diterapkan oleh seluruh umat muslim di negara ini, kesejukan bulan puasa akan benar-benar terasa sampai ke pelosok-pelosok desa. Keruhnya atmosfir perkotaan juga akan semakin tidak terasa, sebab hati masyarakat kota sudah sejuk melihat tokoh pemuka agama sudah benar-benar kembali pada jalurnya.
Bulan puasa adalah waktu yang tepat untuk mempuasai hasrat politik untuk berkuasa dan hasrat untuk mengalahkan. Untuk politikus, sudah seharusnya bulan puasa dapat mereda tensi yang sempat memanas selama Pilpres berlangsung. Apa lagi, pengumuman terkait hasil Pilpres juga akan diumumkan dalam bulan ramadhan.
Para pimpinan partai politik dan pejabat tinggi di negeri ini, harusnya mencerminkan pribadi yang berjiwa luhur, sebagaiman seharusnya seorang negarawan. Setiap kata yang keluar dari ucapannya adalah petuah dan arahan yang baik dan menyejukkan. Tidak perlu memperkeruh keadaan.
Apa lagi tokoh agama atau ulama, bulan puasa harusnya dapat mengingatkannya untuk ikut andil menyejukkan suasana negara yang kacau ini. Jika dari tokoh agama saja tidak bisa mencerminkan hal yang baik, sehingga menimbulkan kegaduhan dalam sekala nasional, maka perlu ditinjau kembali status keulamaannya.
Menyoal terkait Pilpres 2019, kita tahu bahwa kedua paslon sama-sama memiliki pendukung dari kalangan ulama. Pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin didukung oleh Mbah Maimoen, Said Aqil, Yusuf Mansur, TGB, Kyai Anwar Mansyur Lirboyo, dan masih banyak lagi.
Di sisi lain, pasangan Prabowo – Sandi didukung oleh Habieb Rieziq Shihab, KH Abdul Rosyid Abdullah Syafii, Ustadz Yusuf Muhammad Martak, Ustadz Ahmad Haikal Hasan, Ustadz Muhammad Al-Khatat, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, dan Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, Ustaz Zaitul Rasmin, Ustaz Slamet Maarif, KH Sobri Lubis, Ustaz Bachtiar Nashir.
Memilih untuk memihak salah satu paslon adalah hak dan boleh untuk dipublikasikan. Akan tetapi, keberpihakan pada salah satu paslon jangan sampai hanya tinggal diam jika paslon atau tim pemenangannya melakukan kegaduhan yang berdampak hingga skala nasional. Sebagai ulama yang berada di tengah-tengah para politikus, sudah seyogyanya untuk menjadi peredam jika ada potensi kekacauan.
Setiap saya melihat para ulama nasional di negeri ini saling bersilang pendapat dalam hal politik, saya masih maklum. Namun, lahirnya ucapan-ucapan dari ulama yang kemudian dapat memicu perpecahan horizontal di bawah, itu adalah sebuah ironi yang membuat saya prihatin kepada mereka semua dan bangsa ini.
Dewasa ini, umat muslim Indonesia semakin krisis akan adanya sosok ulama yang bisa dijadikan sebagai suritauladan. Saya sebagai anak desa, cenderung mengabaikan petuah-petuah ulama nasional, dan memilih mendengarkan pengajian dari kyai saya di pondok dekat rumah.
Walau pun beliau tidak pernah diekspos di media apa pun dan hanya masyarakat desa yang mengenalnya, namun marwahnya sebagai seorang kyai masih sangat kuat. Hal tersebutlah yang kemudian menjadi poin penting nan berbobot secara spiritual keagamaan. Beliau benar-benar fokus membimbing santri-santri di desa dan tidak mau ikut campur lebih jauh dalam urusan politik yang kacau balau ini.
Para kyai di desa berpuasa sepanjang masa untuk menghindar dari hiruk pikuk politik di negeri ini. Masih banyak kyai di desa saya yang benar-benar menghindari tiga hal yang berkaitan dengan politikus dan pejabat.
Tiga hal tersebut adalah tidak menerima uang dari mereka, tidak duduk dalam satu majelis dengan mereka, dan terlebih-lagi tidak ngobrol dengan mereka. Hal tersebut bukan semata-mata menilai bahwa politik adalah kotor atau dosa, akan tetapi lebih dari menjaga diri agar tidak terseret pada ‘arus rusuh’ yang sering berpotensi dilakukan oleh para politikus di negeri ini. Dan santri yang mengaji kepadanya pun semakin mantap mengikuti petuahnya, sebab apa yang diucapkan sudah benar-benar diterapkan dalam kehidupan sang kyai desa ini.
Memang hal tersebut beda ranahnya. Namun, perilaku egois harusnya bisa dipakai di ranah mana pun. Menolak berpihak kepada Prabowo tidak perlu kemudian mengeluarkan kata-kata yang menyakiti pihak Prabowo, sehingga membuat mereka marah pula kepada pihak Jokowi. Demikian pula sebaliknya.
Jika ini dipelihara terus oleh tokoh agama atau ulama di negeri ini, tak ayal, setiap Pilpres lima tahun sekali tersebut akan selalu marak dengan adanya pertentangan sesama ulama dan kepercayaan masyarakat kepada ulama pun akan melemah. Akibatnya, bangsa Indonesia khususnya yang beragama Islam akan kehilangan sosok pengayom yang harusnya mereka mintai arahan dan wajangannya.


Sumber: tempo.co

Oleh: Emha Ainun Nadjib

Peta berpikir Amerika Serikat meletakkan almarhum Gusdur setataran dan se”wilayah jihad” dengan Martin Luther King Jr. Consulate General of the United States of America di Surabaya “memproklamasikan” itu dalam  acara “Tribute to Gusdur and Martin Luther King Jr: Legacy of Pluralism Diversity and Democracy”.
Penyelenggara menerapkan kearifan nilai yang perlu diteladani, dengan meletakkan saya yang ber-track-record di wilayah perjuangan kedamaian, pluralisme dan demokrasi – justru sebagai pendamping pembicara utama, yakni Alissa, putrinya Gusdur sendiri.
Martin Luther terkenal dengan ungkapannya “I have a dream”, Gusdur termasyhur dengan statement “Gitu saja kok repot” yang “njangkungi” Indonesia, dunia dan kehidupan.
“Jangkung” artinya tinggi. “Njangkungi” atau menjangkungi artinya mengatasi, membereskan, mengungguli, mrantasi. Sebesar-besar masalah, setinggi-tinggi persoalan, “dijangkungi” oleh Gusdur. Martin Luther King masih berposisi “Aku mendambakan”, Gusdur “sudah mencapai”. Gusdur berbaring sambil senyum-senyum dan nyeletuk “Gitu saja kok repot”.
Wakil dari komunitas Konghucu menangis-nangis terharu oleh kasih sayang Gusdur yang membuat mereka memperoleh ruang dan kemerdekaan menjadi dirinya sendiri di Nusantara. Beberapa tokoh HMI dan Muhammadiyah, yang ber”nasab” Masyumi, mendatangi saya di pojok ketika istirahat ngopi: “Cak, Konghucu bagian enak. Kami ini yang dapat asem kecut. Gusdur tidak pernah bersikap enak kepada semua yang indikatif Masyumi. ICMI belum berdiri saja sudah dimarah-marahin oleh Gusdur…”
Saya menjawab, “itu justru karena Gusdur meyakini kalian sudah sangat mandiri dan kuat, sehingga tidak perlu disantuni, malah dikasih tantangan, kecaman dan sinisme, supaya bangkit harga diri kalian”.
Peta politik, perekonomian, kebudayaan dan apapun, sangat dikendalikan oleh konstelasi kedengkian kelompok, kepentingan sepihak dan kebodohan publik, yang menciptakan mapping gang-gang dan jejaring inter-manipulasi subyektif golongan. Atas dasar psiko-budaya politik semacam itu pulalah Reformasi 1998 dipahami dan dirumuskan. Barang siapa tidak masuk golongan, ia tidak ada. Dan itu legal konstitusional: kaum independen tidak ada dalam peta politik Indonesia.
Maka kepada teman-teman yang mengeluh itu saya berfilsafat: “Kalau Anda kain putih, kotoran sedebu akan direwelin orang. Kalau ada gombal bosok, kotor seperti apapun tidak dianggap kotoran. Tinggal Anda mau milih jadi kain putih atau gombal”.

HAM

Di samping HAM, ada WAM: wajib asasi manusia, tapi tidak saya tulis di sini. Yang pasti Martin Luther King adalah “Mbah”nya semangat HAM, Gusdur penikmat HAM. Martin Luther berjuang memerdekakan manusia, Gusdur adalah manusia paling merdeka. Kalau pakai idiom Islamnya Gusdur sendiri: Martin Luther berjuang pada tahap “da’wah bilisanil qoul” (menganjutkan dengan kata-kata), sedangkan Gusdur “amal bililasil-hal” (melakukan dan menteladani dengan perilaku).
Andaikan yang didiskriminasikan di Amerika adalah kulit putih, Martin Luther King tetap begitu juga perjuangannya. Karena dia bukan memperjuangkan hak-hak kaum hitam di Amerika, melainkan menempuh perjalanan menuju keadilan universal bagi seluruh dan setiap ummat manusia. Bukan “hitam”nya yang dibela, melainkan “hak kemanusiaan”nya. Bukan kulitnya, tapi manusianya.
Atas aspirasi pluralisme dan anti-kekerasan yang dirintis Gusdur, Pasukan Banser selalu siap siaga menjaga Gereja-gereja setiap Natal atau hari penting lainnya. Itu kesetiaan pluralistik model Gus Dur. Sementara Ahmadiyah dan Syiah, juga Masyumi atau Muhammadiyah, sudah sangat kuat dengan dirinya, tak perlu dijaga. Yang mereka perlukan adalah pelatihan-pelatihan iman, uji militansi dan ketahanan juang. Kaum Muslimin memerlukan pukulan-pukulan untuk memperkokoh keyakinannya.
Gusdur adalah seorang Bapak yang amat santun kepada tetangganya, namun sangat keras mendidik disiplin mental anak-anaknya sendiri, dengan hajaran dan gemblengan sedemikian rupa. Kalau pakai budaya Jombang, agar supaya anak-anak menjadi tangguh mentalnya, ia perlu “diancup-ancupno ndik jeding” (kepalanya dibenam-benamkan ke air kamar mandi), “dibatek ilate” (ditarik lidahnya keluar mulut sehingga tak bisa omong), atau “disambleki mbarek sabuk lulang” (dicambuki pakai ikat pinggang kulit).

Diskriminasi

Kehidupan ummat manusia di permukaan bumi ini, atau mungkin memang selamanya demikian, selalu hiruk pikuk oleh silang sengkarut diskriminasi, berbagai-bagai jenis, konteks dan modus diskriminasi. Ada diskriminasi rasial, diskriminasi kultural, diskriminasi eksistensial, diskriminasi primordial, bahkan diskriminasi teologis dan natural. Peristiwa diskriminasi penuh ambiguitas, melingkar-lingkar, berlipat-lipat, letaknya bersama keadilan universial seringkali berdampingan, bahkan teramu menjadi sebuah kesatuan.
Mungkin sekali diskriminasi dijelaskan dengan terpaksa menerapkan diskriminasi di sana sini. Diskriminasi adalah aplikasi ketidakadilan pada konteks-konteks yang berkaitan dengan identitas, eksistensi, letak keberadaan atau posisi dalam peta kehidupan. Sedangkan keadilan dan ketidakadilan adalah puncak ilmu dan misteri yang mungkin saja tak pernah benar-benar bisa dijangkau oleh managemen logika manusia. Oleh karena itu kita tak boleh pernah berhenti mencari dan memperjuangkannya.
Sampai hari ini yang kita capai baru “sorga seseorang adalah neraka bagi lainnya”. Orang Jawa bingung tidak ada kata asli Jawa untuk “adil”. Yang ada “pas” (akurat, tepat), “empan papan” (proporsional). Peradaban Jawa sangat beraksentuasi ke kebudayaan estetika atau “keindahan”, sementara “kebenaran” dan “kebaikan” adalah bagian dari rangkaian peradaban keindahan Jawa, yang puncaknya adalah “mamayu hayuning bawana”: memperindah keindahan jagat raya.
Sehingga dalam praksis budaya masyarakat Jawa muncul etos “jangan mo-limo, nggak enak sama tetangga”, “silahkan maling, tapi jangan di sini”. Jadi akar masalahnya bukan pada hakekat kebenaran dan kebaikan, melainkan pada upaya untuk “tampak indah”.  Yang disepakati adalah norma kolektif untuk tampak indah, bukan substansi nilai kebenarannya. Maka politik pencitraan sangat diterima dengan tenteram oleh jenis kebudayaan ini, meskipun jelas pencitraan adalah penipuan dan pemalsuan.
Kalau dua anak kita belikan baju dengan warna yang sama, itu diskriminatif terhadap hak estetika mereka. Kalau kita bebaskan mereka memilih selera masing-masing, nanti perbedaan harga antara dua baju itu mengandung diskriminasi. Kita bikin kurungan kecil untuk burung dara dan kandang sangat besar untuk gajah: terjadi diskriminasi pada “yang satu dapat gede, lainnya kecil”. Puluhan Parpol tidak lolos-KPU karena parameter teknis-kwantitatif, sehingga anggota Parpol yang tidak lulus memperoleh dua wilayah diskriminasi: tidak bisa menggunakan aspirasi orisinalnya dalam proses bernegara, atau mendiskriminasikan aspirasinya sendiri dengan menjualnya ke lembaga aspirasi yang bertentangan dengannya. Kalau yang independen, sekali lagi: tiada.
Diskriminasi eksistensial bercampur aduk dengan konteks diskriminasi kultural, teologis dan berbagai-bagai lainnya. Diskriminasi terjadi ketika kerbau diperlakukan sebagai kambing. Ketika Pemerintah disamakan dengan Negara. Ketika rakyat malah melayani Pemerintah. Ketika manusia diberhalakan, ketika Tuhan dikategorikan sebagai dongeng, atau ketika dongeng dituhankan. Ketika sapi kita potong buntutnya doang karena warung kita jualan sop buntut. Ketika manusia melintas di depan kamera yang dipotret hanya borok di bokongnya. Ketika bungkus gula di warung tidak ditulisi “Gula dapat menyebabkan sakit gula”.
Bahasa jelasnya, sejarah bukan tidak mungkin mencatat tokoh yang banyak melakukan tindakan diskriminasi justru sebagai tokoh anti-diskriminasi.
Bangsa Amerika sudah melewati kurun waktu lebih panjang untuk lebih bisa meletakkan Luther King pada makam sejarahnya, sementara Bangsa Indonesia memerlukan waktu lebih panjang untuk memastikan posisi Gusdur, apalagi kita sedang mengalami “era abu-abu” di mana masyarakat mengalami ketidakpastian pandangan tentang tokoh-tokoh kebangsaan mereka. Kita mengalami ambiguitas pandangan yang sangat serius kepada Bung Karno, Pak Harto, banyak tokoh nasional lainnya termasuk M. Natsir, Syafrudin Prawironegoro, atau bahkan Tan Malaka, juga Gusdur. Di Jombang semula akan diresmikan “Jalan Presiden Abdurahman Wahid”, sekarang kabarnya kata “Presiden”nya dihilangkan.
Utamanya kaum Nahdliyin (ummat NU) perlu menggiatkan upaya-upaya ilmiah obyektif, penelitian yang seksama dan detail mengenai sejarah sosial Gusdur. Secara keseluruhan Ummat Islam perlu membuktikan kejernihan intelektual dan keadilan sejarah untuk membuka wacana-wacana adil kesejarahan demi keselamatan generasi mendatang. Pameo “sejarah itu milik mereka yang menang” perlu ditakar prosentasenya pada peta pengetahuan sejarah bangsa Indonesia.
Para pecinta Gusdur juga perlu segera mengeksplorasi upaya penelitian sejarahnya, untuk mendapatkan ketegasan persepsi tentang Gusdur. Perlu ada semacam “Buku Besar Gusdur” tentang benar-salahnya beliau selama kepresidenannya dan impeachment atas kedudukan beliau. Dipertegas data-data sejarah dan fakta-fakta sosial di mana dan kapan saja Gusdur memperjuangkan keadilan, mendamaikan bangsa, dan mempertahankan kejujuran kemanusiaan. Dibuktikan secara faktual dan detail bahwa Gusdur adalah pluralis pemersatu: Pada peristiwa apa, kapan, di mana, Gusdur mendamaikan dan mempersatukan ini-itu. Supaya punya bahan faktual untuk tegas menjawab pertanyaan sinis: “Sebutkan apa saja yang tidak pecah setelah Gusdur hadir”.
Terkadang ada niat saya bertanya langsung kepada Gusdur di alam barzakh soal ini, tapi kwatir dijawab “Gitu aja kok repot!”. Di samping itu saya kawatir juga karena di alam sana Marthin Luther King tinggal sewilayah dengan Gusdur, maka orang-orang memanggilnya “Gus Martin”.
Oleh: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Tulisan ini dimuat Opini Kompas, Senin, 25 Februari 2013
Ilustrasi: gusmus.net

MENURUT kamus, jabatan ialah pekerjaan (tugas) dalam pemerintahan atau organisasi. Jadi mestinya siapapun yang bekerja (bertugas) baik dalam pemerintahan maupun organisasi bisa disebut pejabat. Namun menurut kamus, tidak. Pejabat mempunyai arti sendiri yang tidak persis berkaitan dengan kata “jabatan”, yaitu “pegawai pemerintah yang memegang jabatan penting (unsur pimpinan).” Jika lebih penting lagi, disebut pejabat tinggi, lebih tinggi lagi, disebut pejabat negara.

Karena itu dalam tulisan ini, istilah “jabatan”  digunakan hanya yang berkaitan dengan sebutan pejabat, yakni hanya berkaitan dengan pekerjaan atau tugas pemerintahan baik yang penting maupun yang lebih penting lagi. Sebab, jabatan dengan pengertian ini biasanya lebih menarik dan diamati oleh banyak penduduk bumi.

Jabatan memang suatu makhluk yang penting dan sekaligus aneh. Penting karena melalui dirinya, berbagai macam urusan orang (lengkapnya urusan negara dan masyarakat) ditangani; berbagai anggaran negara disalurakan melaluinya atau melalui pemegangnya. Jabatan, sesuai dengan namanya, mengandung pengertian amanat dan tanggung jawab. Lazimnya, jabatan disebut memberi kepada pemegangnya (pejabat), dua hal: kewajiban dan hak. Karena itu, berbagai aturan pun dibuat untuk mendapatkan pemegang jabatan yang tepat dan menjaga agar pekerjaan atau tugas penting itu dilaksanakan dengan semestinya. Bahkan sebelum seorang pejabat menjabat, dilakukan penyumpahan segala.

Mengapa disebut aneh? Sebab, menilik penting dan besarnya tanggungjawab jabatan, semestinya banyak orang yang tidak berminat memegangnya, namun kenyataannya setiap jabatan bahkan yang paling kecil pun mengundang peminat yang membludak. Apakah orang hanya tertarik kepada haknya saja, karena memang yang diketahui hanya itu ataukah karena jiwa kejuangan  dan rasa tanggung jawab memang luar biasa di negeri ini? Kita sering menyaksikan pejabat menyelenggarakan tasyakuran  karena “mendapat” jabatan. Apakah dia itu mensyukuri hak atau kah mensyukuri amanat dan tanggungjawab yang dipercayakan ke pundaknya? Tentu yang paling tahu adalah dia sendiri.

Dewasa ini kita mendengar dan menyaksikan ramainya orang berbicara tentang jabatan penting mulai kepala negara hingga kepala daerah (hingga istilah pilkada pun mungkin sudah mengalahkan pil koplo). Ramainya pembicaraan mengenai hal ini, bisa diartikan meskipun saya masih sebatas berharap bahwa kesadaran dan rasa tanggung jawab serta kepedulian masyarakat terhadap negara dan daerah mereka memang sudah sangat tinggi. Demikian pula dengan fenomena banyaknya orang yang menawarkan atau mendaftarkan diri menjadi calon kepala negara atau kepala daerah, bisa kita artikan meskipun saya terus terang agak ragu bahwa para peminat itu semata-mata didorong oleh rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kemaslahatan negara dan daerah serta kesejahteraan rakyat.

Dengan berat saya harus mengatakan sejujurnya, saya agak ragu (kata “agak”, ini pun sudah berlebihan menutupi keterusterangan saya); benarkah tanggung jawab terhadap kemaslahatan negara dan daerah serta kesejahteraan rakyat sedah sedemikian tinggi di negeri kita ini, sehingga banyak orang yang berlomba-lomba dan siap “mengorbankan” diri bagi kemuliaan negara dan daerahnya sebagaimana pendahulu-pendahulu kita siap mengorbankan diri mereka bagi kemuliaan bangsa dan negara?

Bila para pendahulu kita membuktikan tekad mereka dengan amal perbuatan, maka dengan apakah para peminat jabatan saat ini hendak membuktikan tekad mereka? Apakah mereka akan membuktikan tekad mereka dengan menunjukkan kemampuan, pengetahuan, moral, program, dan kasih sayang mereka terhadap rakyat, ataukah dengan mengerahkan para pendukung dan harta kekayaan mereka?

Juga para pendukung masing-masing calon, benarkah karena mereka melihat dan berani bersaksi terutama di hadapan Tuhan bahwa calon mereka adalah putra terbaik yang mampu membawa negara atau daerah ini jaya mengantarkan rakyatnya pada kesejahteraan?

Ataukah ada kepentingan-kepentingan sendiri yang akan dinunutkan dalam pendukungnya terhadap calon itu?

Saya teringat pernah membaca, betapa Sayyidina Umar Ibn Khattab yang begitu perkasa menangis tersedu-sedu ketika karibnya, Khalifah Abu Bakar Shiddiq, menunjuk dirinya sebagai calon pengganti sebagai khalifah.

“Jika Anda benar mencintaiku, walai Khalifah, janganlah kau bebankan amanat sebesar itu ke pundakku!" Demi”ian kira-kira pinta sahabat Umar kepada seniornya itu. “Masih banyak orang lain yang lebih mampu daripadaku.” Umara menangis di samping karena melihat beratnya tanggung jawab juga terutama karena membayangkan kerasnya hisap pada Hari Perhitungan Tuhan kelak.

Dengan panjang Lebar Abu Bakar mengutarakan alasan-alasannya mengapa memilih Umar. Antara lain dengan “menggiring” Umar untuk mengakui bahwa saat itu, negara dan rakyat membutuhkan seorang tokoh pimpinan Al-qawiyyul Amien yang kuat dan dapat dipercaya.

Di hadapan jawaban ini, jelas Khalifah, ada dua orang yang terjerumus ke dalam neraka. Pertama, orang yang nekat maju mengambilnya, padahal dia tahu ada orang yang lebih mampu daripada dirinya. Kedua, orang yang mampu dan diminta memegangnya tapi menolak karena lari dari tanggung jawab.

Akhirnya secara obyektif Umar mengakui, untuk persyaratan amanah bisa dipercaya, selain dia masih banyak orang lain yang dapat memenuhinya, tapi siapakah yang dapat menandingi kekuatan Umar dalam menjaga dan membela kepentingan rakyat. Meski sudah kalah, Umar masih meminta Abu Bakar agar terlebih dahulu bermusyawarah dan meminta persetujuan ahlul halli walaqdi (tokoh-tokoh yang representatif mewakili rakyat). 

Waba’du, yang namanya jabatan, terutama jabatan negara, adalah untuk kepentingan orang banyak. Sekali anda secara cupet hanya memandangnya sebagai untuk kepentingan golongan sendiri, insya Allah Anda tidak hanya akan dilaknat sejarah tapi juga oleh Yang Maha Tahu isi dada Anda. Wallahualam.

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus), tulisan ini telah terbit di gusmus.net

Jabatan

Oleh Tanggal 1/09/2020 03:55:00 pm
Ilustrasi: gusmus.net MENURUT kamus, jabatan ialah pekerjaan (tugas) dalam pemerintahan atau organisasi. Jadi mestinya siapapun yang b...
"Istikharah adalah upaya memohon kepada Allah swt agar memberikan pilihan terbaik kepada kita akan hal-hal yang memang kita punya hak untuk memilih antara mengerjakan dan meninggalkan."

Istikharah menurut Imam Nawawi dalam kitab al-adzkar sangat dianjurkan (sunnah) pada semua perkara yang memiliki beberapa alternatif. 

Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Jabir Ibn Abdillah ra bersabda:


   اذا هم أحد كم بالأمر فليركع ركعتين ثم ليقل: أللهم... (رواه البخاري)    


Jika diantara kalian hendak melakukan perkara/urusan, maka rukuklah (shalatlah) dua rakaat : kemudian berdoa…(HR. Bukhori)   


Redaksi dalam hadits tersebut menggunakan kata ‘al-amr’  yang berarti perkara atau urusan yang mengandung makna umum. 


Meski demikian berbagai perkara wajib tidak perlu di-istikharahi. Sebab kita tidak punya pilihan lain. Yakni yang wajib harus dilakukan dan yang haram harus ditinggalkan. Tidak perlu istikharah apakah akan mengerjakan shalat atau tidak misalnya. Demikian juga dengan mencuri, berzina dan sejenisnya. 



Istikharah adalah upaya memohon kepada Allah swt agar memberikan pilihan terbaik kepada kita akan hal-hal yang memang kita punya hak untuk memilih antara mengerjakan dan meninggalkan. Seperti pekerjaan misalnya, kita diperbolehkan bekerja sebagai pedagang, petani, pengusaha dan sebagainya.   


Shalat istikharah sangat mudah, yaitu shalat dua rakaat dengan niat istikharah:


   أصلى سنة الإستخارة ركعتين لله تعالى   


Aku berniat shalat istikharah dua raka’at karena Allah Ta’ala   


Rakaat pertama setelah membaca surat al-Fatihah memabaca surat al-Kafirun. Dan rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas. 


Kemudian setelah salam membaca do’a:


   اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمَّى حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ   


“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku sukseskanlah untuk ku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untuk ku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku.” 


Setelah shalat istikharah, biasanya di dalam hati timbul rasa tenang dan mantap terhadap salah satu alternatif yang ada. Bisa juga hasil istikharah diketahui lewat mimpi, dengan isyarat dan simbol-simbol tertentu. Kalau masih ragu, istikharah dapat diulang dua atau tiga kali.    


Sumber: KH.MA. Sahal Mahfudh. Dialaog Problematika Umat. Surabaya: Khalista & LTN PBNU  

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada  Kamis, 12 Januari 2012 pukul 17:52. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

_____________________________________

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/35787/tata-cara-dan-doa-shalat-istikharah
Konten adalah milik dan hak cipta www.islam.nu.or.id

Dalam sebuah perjalanan ke Tunisia tahun 1991 saya ikut mendampingi Abah saya bersama rombongan ulama dari tanah air. Diskusi dengan para ulama Tunisia kerapkali diselingi berbagai guyonan. Salah satunya mengenai syarat menjadi imam Shalat.

Abah saya berkisah di depan para hadirin: “Dulu Bapak saya, KH Hosen, bercerita bahwa siapa yang lebih layak menjadi Imam Shalat. Kedua orang yang hendak shalat ini ternyata sama-sama memenuhi kriteria sesuai berbagai riwayat hadits Nabi:

—bagus tilawahnya dan banyak hafalan Qur’annya.
—wara’
— lebih awal masuk Islam
— mengerti fiqh

Selain sama-sama memenuhi kriteria di atas, ternyata usia mereka berdua juga sebaya, dan tidak ada yang lebih tua. 

Keduanya juga sudah sama-sama menikah. Tidak ada yang statusnya sebagai musafir atau budak. Maka untuk menyelesaikan perdebatan ini, lantas Bapak saya menyodorkan kriteria terakhir, yaitu: siapa yang paling cantik istrinya?!”

Para ulama yang mendengar kisah tersebut langsung tertawa. Ada yang nyeletuk: “Wah semakin susah ini: masing-masing akan mengklaim istrinya-lah yang paling cantik.”

Ada yang memberi komentar lebih serius: “Masuk akal kriteria terakhir itu. Siapa yang istrinya lebih cantik, maka dia akan lebih terjaga pandangan matanya. Sehingga dia lebih layak jadi imam Shalat.”

Hari ini entah kenapa saya terkenang dialog tersebut. Mungkin karena kangen guyonan sambil diskusi dengan almarhum Abah saya. Saya jadi penasaran ingin tahu sumber rujukan kriteria terakhir, “siapa yang lebih cantik istrinya?’ itu. Adakah kitab-kitab fiqh membahasnya.

Saya terkejut. Ternyata guyonan Datuk saya, yang diceritakan oleh Abah saya itu memang tertera dalam literatur fiqh klasik.
Kita mulai dengan kitab Raddul Muhtar karya Ibn Abidin, seorang ulama besar mazhab Hanafi, pada juz 1 halaman 558. Ibn Abidin mengulas salah satu kriteria menjadi imam Shalat itu:
‎(قَوْلُهُ ثُمَّ الْأَحْسَنُ زَوْجَةً)
‎ لِأَنَّهُ غَالِبًا يَكُونُ أَحَبَّ لَهَا وَأَعَفَّ لِعَدَمِ تَعَلُّقِهِ بِغَيْرِهَا. وَهَذَا مِمَّا يُعْلَمُ بَيْنَ الْأَصْحَابِ أَوْ الْأَرْحَامِ أَوْ الْجِيرَانِ، إذْ لَيْسَ الْمُرَادَ أَنْ يَذْكُرَ كُلٌّ مِنْهُمْ أَوْصَافَ زَوْجَتِهِ حَتَّى يَعْلَمَ مَنْ هُوَ أَحْسَنُ زَوْجَةً

Dengan memiliki istri yang cantik dia akan mencintai istrinya dan tidak tertarik pada yang lain. Tentu beliau menambahkan bahwa kriteria istri cantik ini hanya secara umum saja, bukan bermaksud untuk menyebutkan kecantikan istri agar diketahui oleh semua jama’ah.

Tapi kekagetan saya tidak berhenti sampai di sini. Ternyata kitab di atas menyebutkan kriteria lain yang ruarrr biasa:

‎ثُمَّ الْأَكْبَرُ رَأْسًا وَالْأَصْغَرُ عُضْوًا

Maksudnya, secara harfiah, yang besar kepalanya dan kecil penisnya.

Penjelasan lebih komplit begini:
‎(قَوْلُهُ ثُمَّ الْأَكْبَرُ رَأْسًا إلَخْ)
‎لِأَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى كِبَرِ الْعَقْلِ يَعْنِي مَعَ مُنَاسَبَةِ الْأَعْضَاءِ لَهُ، وَإِلَّا فَلَوْ فَحُشَ الرَّأْسُ كِبَرًا وَالْأَعْضَاءُ صِغَرًا كَانَ دَلَالَةً عَلَى اخْتِلَالِ تَرْكِيبِ مِزَاجِهِ الْمُسْتَلْزِمِ لِعَدَمِ اعْتِدَالِ عَقْلِهِ اهـ ح. وَفِي حَاشِيَةِ أَبِي السُّعُودِ؛ وَقَدْ نُقِلَ عَنْ بَعْضِهِمْ فِي هَذَا الْمَقَامِ مَا لَا يَلِيقُ أَنْ يُذْكَرَ فَضْلًا عَنْ أَنْ يُكْتَبَ اهـ وَكَأَنَّهُ يُشِيرُ إلَى مَا قِيلَ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْعُضْوِ الذَّكَرُ

Kepala besar itu bukan bermakna sombong seperti bahasa keseharian kita. Tapi maksudnya besar akalnya. Ibn Abidin kelihatan agak kurang sreg dengan bahasan selanjutnya, dimana dia mengutip Hasyihah Abi as-Su’ud yang merasa tidak layak menyebutkan hal ini karena soal penis yang kecil.

Kira-kira maksudnya gini: yang layak jadi imam itu yang pengetahuannya banyak dan ‘kemaluannya’ kecil. Itu artinya dia tidak sibuk memikirkan apalagi mengumbar syahwatnya. Orang yang “kepala bawahnya” lebih besar ketimbang “kepala atasnya” tidak layak jadi Imam Shalat. Kepala atas itu simbol ilmu. Kepala bawah itu simbol syahwat.

Imam at-Thahthawi dalam kitab Hasyihah-nya (1/301) juga mencoba menjelaskan yang dimaksud penis kecil itu:
‎قوله ( وأصغرهم عضوا ) فسره بعض المشايخ بالأصغر ذكرا لأن كبره الفاحش يدل غالبا على دناءة الأصل ويحرر ومثل ذلك لا يعلم غالبا إلا بالاطلاع أو الأخبار وهو نادر ويقال مثله في الأحسن زوجة المتقدم

Kalau penis besar itu kesannya buruk moralnya, meskipun ini hanya sekedar kasus saja, dan tidak menjadi standar bahwa yang seperti itu pasti jelek kelakuannya.

Itu pembahasan dari mazhab Hanafi. Apakah kitab mazhab Syafi’i juga membahas soal kriteria istri cantik untuk menentukan imam Shalat?

Ternyata juga dibahas. Kitab Hasyihah al-Bujairimi ‘alal Khatib (2/141):
‎ (فَأَحْسَنُ صُورَةً)
‎ أَيْ وَجْهًا وَهَذَا لَا يُغْنِي عَنْهُ أَنْظَفُ بَدَنًا إذْ لَا يَلْزَمُ مِنْ الْأَنْظَفِ الْأَحْسَنُ، وَبَعْدَ ذَلِكَ الْمُتَزَوِّجُ فَالْأَحْسَنُ زَوْجَةً

Jadi selain imam Shalat itu bagus penampilannya dan dia juga menikahi wanita yang terbaik (cantik).

Intinya sebenarnya adalah bagaimana sang Imam punya kualitas lebih dari yang lain termasuk soal moralitas. Asumsinya kalau istrinya cantik, maka dia akan lebih selamat dunia-akherat. Benarkah asumsi tersebut? Tentu tidak selamanya begitu.
Ini namanya guyonan para ulama yang ternyata didukung pembahasan dalam kitab fiqh.

Pertanyaan iseng saja: kalau sudah istrinya cantik, terus sang imam juga cerdas, tapi kenapa ‘kemaluan’-nya harus kecil yah? Apa gak mubazir punya istri cantik kalau gitu? Rasanya pertanyaan terakhir ini belum dibahas oleh kitab klasik!

Tabik,
Oleh: Nadirsyah Hosen (Gus Nadir). Tulisan ini telah terbit di www.nadirhosen.net pada tahun 2018.

Sumber: kenduricinta.com
Patangpuluhan, Minggu ketiga Mei 1990
Datang ke rumah saya, pada suatu siang yang gerah, seorang lelaki dengan wajah yang hendak “runtuh”, dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kemarahan yang besar sekaligus ketakutan yang besar.
Itu salah satu “model” dari salah satu “tipe” tamu-tamu saya, di samping sahabat-sahabat lain yang menyenangkan, yang datang membawa kabar baik, kegembiraan, atau datang untuk mentraktir rasa lapar saya.
Semua saya cintai. Semua, sebisa-bisa saya sambut dengan partisipasi dan empati.
Lelaki itu, yang datang dari kota berjarak 300 km dari Yogyakarta, adalah seorang sarjana, seorang pegawai negeri. “Sudah beberapa kali saya berpikiran akan bunuh diri, meskipun alhamdulillah belum pernah saya laksanakan,” katanya, mengagetkan saya.
“Masa kanak-kanak saya normal seperti anak-anak lain. Tetapi, mulai 9 tahun, saya mulai merasakan konflik kejiwaan yang dahsyat. Saya mulai terbiasa memaki-maki Tuhan. Makin saya menghayati kehidupan, makin saya menjumpai hal-hal yang tak saya setujui. Saya tidak tahan menyaksikan kesengsaraan. Padahal, seluruh kehidupan ini sudah diskenariokan oleh Tuhan. Saya tidak mengerti untuk apa Allah menciptakan kesengsaraan. Kalau memang Tuhan itu ada dan berkuasa atas segala sesuatu, mengapa tidak Dia ciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan saja, dan tak usah penderitaan dan kesengsaraan. Saya tidak tega….”
Ia bercerita panjang lebar. Ia mengemukakan berbagai kegelisahan yang aneh-aneh, yang menyangkut keadilan, kebenaran, penindasan, takdir Tuhan, idaman perdamaian, serta apa-apa saja. Ia begitu takut pada neraka. Ia berhenti merokok karena takut menyalakan korek api sebab api mengingatkan ia pada dahsyatnya api neraka. Ia tidak mengerti mengapa Tuhan membuat neraka segala macam, mbok ya surga saja. Kalau memang Tuhan adil, tak usahlah Dia biarkan sekian banyak orang sengsara sampai sekian lama. Sampai setiap orang sakit jiwa pada stadium masing-masing. Di setiap kantor dan tempat merundingkan nomor buntut. Di setiap ruangan orang mencari kamuflase, mencari pelarian, mencari hiburan-hiburan pragmatis dari kesengsaraan yang amat panjang. Ia bahkan melihat orang yang sengsara bukan hanya orang-orang yang melarat, melainkan juga banyak orang kaya yang hidupnya sangat sengsara. Ia tak kuat menyaksikan itu semua. Ia pergi mencari ulama-ulama, tetapi setelah bertemu justru tambah bingung karena ia dihadapkan dengan dogma-dogma dan ancaman kafir musyrik dan lain sebagainya. Ia pergi ke psikiater, tetapi tak memuaskannya karena ia berkesimpulan para ahli psikologi hanya mengetahui gejala kejiwaan, tetapi tidak mengerti jiwa. Dan, seterusnya dan seterusnya.
Dialog kami hampir memakan waktu dua jam.
Setelah membiarkannya menuntaskan segala yang ingin ditumpahkan, lantas saya menanggapinya dengan penuh kemarahan dan dengan suara gemetar.
“Anda, kok, berani-beraninya mau bunuh diri segala.” Saya tuding mukanya. “Anda hendak mengkhianati cinta saya kepada Anda! Kalau Anda bunuh diri, lantas saya bagaimana? Mengapa Anda meninggalkan saya? Kok, tega-teganya Anda menganggap enteng cinta kasih saya kepada Anda! Anda pikir saya hanya mencintai orang-orang yang sudah saya kenal? Kalau Anda sampai bunuh diri, saya akan bilang sama Tuhan: Ya Allah, ada lelaki yang tega hati mengkhianati kita! Dia egois dan mementingkan dirinya sendiri! Dia mau mencari kepuasan pribadi! Dia tidak mau merasakan bahwa saya akan sangat merasa sedih kalau ia bunuh diri. Saya akan sangat marah besar! Kalau Anda bunuh diri, saya akan kejar-kejar roh Anda dan akan saya cabik-cabik, saya tuntut, saya tagih….”
Mata saya memelotot. Sorotnya saya bikin sedemikian rupa sehingga mampu menembus ruang asing di dalam jiwanya. Otot-otot di wajah saya menegang. Punggung saya maju dari kursi. Dengan kata-kata saya meluncur tanpa pause,saya cengkeram tengkuknya, saya angkat seluruh tubuh dan jiwanya ke ruang kosong di awang-uwung.
“Anda telah meletakkan diri Anda sebagai Tuhan! Anda mencuri hak Allah untuk menentukan kelahiran dan kematian. Saya sama sekali tidak terima itu! Kalau Anda memang hendak menentukan kematian Anda, mengapa dulu Anda tidak menentukan kelahiran Anda? Mengapa Anda memilih menjadi Anda dan tak memilih menjadi orang lain saja? Mengapa Anda memilih lahir di sini dan tidak di sana? Kenapa Anda tidak memilih menjadi saya, sehingga siang ini menerima tamu seorang lelaki yang bingung, marah, dan ketakutan? Sekali lagi, kalau Anda sampai bunuh diri, roh Anda akan saya kejar dan akan saya tampar dengan seribu kali kematian! Saya akan umumkan kepada semua makhluk bahwa saya menyesal mencintai seorang yang ternyata sangat lemah padahal sesungguhnya ia kuat, seseorang yang merasa sengsara padahal ia lebih besar daripada kesengsaraan, seseorang yang bisa diombang-ambingkan oleh kebingungan padahal sesungguhnya ia sanggup berdiri tegak, seseorang yang ternyata hanya buih yang terhanyut-hanyut padahal sebagai manusia ia adalah pengendali gelombang, seseorang yang malas dan pengecut padahal sebagai makhluk yang potensinya lebih tinggi dibanding jin dan malaikat sebenarnya ia merupakan wakil Tuhan untuk mampu mengendalikan apa saja — apalagi sekadar gejala-gejala picisan dalam jiwa manusia seperti rasa marah, takut, bingung, stres….”
Kata-kata saya tumpah menjadi gurun pasir yang menimbuninya.
Lelaki itu bengong.[]

________________
Karya Emha Ainun Nadjib, tulisan ini telah terbit di caknun.com




DELPANAM.COM. Bidikmisi adalah program pemerintah dalam bentuk dana pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri yang diperuntukkan kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu yang punya kemauan untuk menikmati bangku kuliah. Semoga program ini benar-benar efektif dalam rangka mengentaskan kemiskinan di negara kita.

Baiklah, kali ini penulis akan membahas apa saja yang harus dipersiapkan untuk mendaftar Bidikmisi, khususnya mendaftar via Online di web site: http://bidikmisi.belmawa.ristekdikti.go.id, web site resmi Bidikmisi. Dalam mendaftar Bidikmisi ada beberapa tahap yang harus dilalui.

Berikut ini akan penulis jelaskan tahap-tahap pendaftaran Bidikmisi sekaligus data yang diperlukan pada masing-masing tahapnya.

1. Merekomendasikan Siswa di website
Dalam tahap ini admin Bidikmisi dari pihak sekolah harus memasukkan nama-nama calon Bidikmisi yang direkomendasikan setelah pihak sekolah mengevaluasi kelayak-terimaan Bidikmisinya. Untuk memasukkan nama-nama siswa syaratnya hanya satu, yaitu NISN siswa. Dalam hal ini perlu diketahui bahwa NISN ini wajib hukumnya dan harus valid.

Dalam hal NISN, penulis sering menemukan siswa yang memiliki NISN yang  tidak valid sehingga mereka gagal mendaftar Bidikmisi akibat hal yang seharusnya ketidak-valitan NISN tersebut. Maka dari itu, penulis menyarankan kepada para siswa yang ingin mencalonkan atau melamar Bidikmisi untuk mempersiapkan dan menge-cek kevalitan NISN masing-masing mulai saat ini. Agar jika NISN kalian tidak valid, kalian bisa mengurusnya dengan tidak tergesa-gesa. Pun pihak sekolah harus komunikatif dengan siswa agar proses peng-input-annya berjalan lancar.

2. Registrasi Siswa
Setelah tahap pertama selesai, pihak sekolah harus memberikan bukti perekomendasiannya kepada siswa karena di sana siswa akan mendapat No. Pendaftaran dan Kode Aksesnya masing-masing untuk digunakan log in ke http://bidikmisi.belmawa.ristekdikti.go.id. Hal-hal yang harus diisi atau di upload oleh siswa setelah berhasill log in adalah sebagi berikut:
a. Mengisi kolom Biodata
b. Mengisi kolom tentang keluarga
c. Mengisi kolom tentang ekonomi
d. Mengisi kolom tentang aset-aset keluarga (opsional)
e. Mengisi kolom prestasi (opsional)
f. Mengisi kolom rencana hidup
g. Mengisi kolom kondisi rumah
h. Mengisi kolom Jalur Seleksi

Kemudian dokumen-dokumen yang harus diupload adalah:
1. Pas Poto berwarna
2. Poto bersama keluarga
3. Poto Rumah tampak depan
4. Poto Ruang tamu/keluarga
5. Scan SK Tidak Mampu dari desa/kel.
6. Scan Piagam Penghargaan minimal juara 3 tingkat kabupaten dan/atau SK Ketua OSIS (Opsional) 

Selanjutnya, untuk lebih jelasnya silahkan download pedoman bidikmisi di http://bidikmisi.belmawa.ristekdikti.go.id aja.

Salam suksess.!!!